Bulir-bulir air hujan membasahi kaca jendela. Rania menatap ke luar jendela kafe dengan tatapan nanar. Matanya berkaca-kaca. Rania memejamkan matanya menahan airmatanya mengalir. Suasana kafe terlihat sepi, mungkin karena hujan. Hanya empat pengunjung yang ada selain Rania. Rania membuka matanya. Dia singgah ke kafe ini karena hujan yang tiba-tiba turun. Dulu Rania sangat menyukai suara hujan. Baginya suara hujan terdengar indah di telinga. Namun sekarang, suara hujan hanya membangkitkan kenangan dan luka. Rania meraih gelas berisi coklat hangat di meja. Menggenggam kedua sisi gelas. Rania menghangatkan tangannya yang terasa dingin, seperti hatinya yang juga terasa dingin.

Hujan masih membuatku merindumu...

****

Satu tahun yang lalu

Rania berlari kecil menuju halte bus di depannya. Saat itu hujan mulai deras. Rania menutupi kepalanya dengan telapak tangan sebelah kanan. Air hujan mulai membasahi baju Rania. Sesampainya di halte yang sudah penuh dengan orang-orang yang berteduh, Rania mencari posisi untuk menghindari hujan yang semakin deras. Rania memandangi hujan, kemudian melihat sekilas orang-orang di sekitarnya yang terlihat memasang wajah kesal. Rania melirik jam tangannya. Sepertinya hujan akan sukses membuat dia dan orang-orang ini terlambat ke kantor. Rania menyunggingkan senyumnya memandangi hujan. Mungkin hanya dia yang tersenyum saat ini. Ada seseoang yang membuatnya menyukai suara hujan. Bahkan dengan kondisi seperti sekarang, dimana dia harus tertahan untuk menuju ke kantor, dan sebagian bajunya basah, baginya suara hujan tetap indah. Rania mengulurkan tangan kanannya, merasakan sejenak hujan dengan telapak tangannya.

“Rania?”

Rania menoleh ke arah suara yang memanggilnya.

“Benar Rania kan?”

Rania menganggukkan kepalanya sambil mengernyitkan dahinya memandangi pria di depannya. Sepertinya dia mengenalnya.

“Haris?”

“Iyaaa, aku Haris. Astaga, mimpi apa ketemu kamu di sini. Tadi aku sempat ragu ketika tadi lewat. Dan berbalik lagi buat mastiin. Apa kabar Rania?”

Haris mengulurkan tangannya. Mereka berjabatan tangan. Rania juga merasa tidak percaya bisa bertemu Haris, teman SMA-nya yang sejak lulus tidak pernah ada kabarnya. Yah, Haris, pria yang pernah menyentuh rasa di hati Rania. Pria yang yang membuat dia menyukai suara hujan.

“Mas payungnya tuh, bikin orang makin kebasahan aja.” Omelan mbak-mbak di samping Rania.

Haris meminta maaf dan mundur ke belakang.

“Kantor kamu dimana?”

Rania menunjuk salah satu gedung yang berada di seberang halte.

“Mau tetap berdiri di sini atau mau bareng aku ke sana? Kantorku di gedung sebelahnya.”

Haris mendekat dan mengulurkan payungnya ke arah Rania. Mereka kemudian melangkah meninggalkan halte.

“Sepertinya kita harus ketemu nanti setelah jam kantor untuk saling menceritakan kabar kita. Berapa tahun kita nggak ketemu, sepertinya hampir delapan tahun ya. Aku nanti tunggu kamu ya di depan kantormu.”

Rania yang masih tidak percaya dengan apa yang terjadi sekarang hanya mengangguk.

“Hey, kamu apa berubah menjadi lebih kalem atau sedang berniat untuk hujan-hujanan?”

“Bukan, masih nggak percaya aja, bisa ketemu kamu.”

“Hujan sepertinya memang menjadi takdir kita ya.”

“Iya tetapi dulu kita nggak perpayungan seperti sekarang.”

“Mau hujan-hujanan?” Haris sedikit memiringkan payungnya, menggoda Rania.

“Tidak saat sekarang, nggak mungkin dong sampai kantor basah kuyup.”

Haris tertawa. Tawa itu masih seperti yang dulu. Haris dan Rania satu kelas selama tiga tahun sejak SMA. Tetapi mereka baru akrab sejak kelas tiga SMA. Haris yang membuat Rania menyukai hujan. Dulu Rania sangat kesal saat hujan turun, karena baginya hujan hanya membuat masalah. Rania yang saat itu bersungut-sungut karena harus menunggu hujan reda, di halte depan sekolah, dan dia lupa membawa payung. Sementara ada ulangan pagi itu. Haris yang saat itu juga berteduh, tetapi sangat terlihat tenang. Terlihat menikmati setiap tetesan hujan yang turun. Kontras sekali dengan wajah Rania. Rania saat itu belum terlalu akrab dengan Haris, melihat aneh dengan ekspresinya Haris. Ada ternyata orang yang bahagia melihat hujan. Entah apa yang membuat wajahnya terlihat bahagia melihat hujan. Haris yang merasa diperhatikan Rania, tiba-tiba saja menarik tangan Rania dan mereka berlarian menuju gerbang sekolah. Saat itu hujan mulai sedikit mereda, tetapi cukup membuat basah seragam mereka.

“Jangan terlalu membenci hujan. Kesalmu tidak akan meredakan hujan. Nikmati saja. Kalau kamu menikmatinya, hujan itu memiliki suara yang indah.” Haris berkata sembari mereka berlarian. Rania hanya terdiam.

Sesampai di depan kelas, Haris tersenyum memandangi Rania.

“Dan satu hal lagi, kamu tidak akan pernah melihat pelangi kalau hujan nggak turun.”

Rania masih tetap terdiam. Tetapi ada yang terusik dalam diam itu. Semenjak itu lah Rania tidak lagi membenci hujan. Ada rindu dalam setiap hujan, rindu yang hanya dirasakan oleh Rania. Setelah tamat SMA perasaan itu tidak pernah terungkapkan. Sampai mereka berpisah saat kelulusan sekolah. Haris kemudian kuliah di luar kota. Dan lambat laun mereka pun tidak pernah lagi saling berkabar. Begitu juga rasa di hati Rania, namun kadang masih terkenang dan terasa kala hujan turun.

“Rania, helooo Rania.” Haris melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Rania.

“Ehhh ya? Kamu tadi bilang apa?” Lamunan Rania buyar.

“Nanti aku tunggu sepulang kantor ya. Jam lima tiga puluh, oke.”

“Oke baiklah.”

Rania memandangi Haris yang berjalan ke arah kantornya. Dan kemudian memandangi hujan yang semakin mereda. Ada pelangi di mata Rania…

****

Semenjak itu lah Rania kembali sering berkomunikasi dan bertemu dengan Haris. Dan tanpa Rania sadari perasaannya kepada Haris kembali terusik. Rania masih berusaha untuk mengingkarinya. Karena dia tidak pernah punya keberanian untuk menyatakan perasaannya kepada Haris. Namun perhatian dan sikap Haris kadang kala membuat Rania bingung. Haris memang tidak selalu ada untuknya setiap hari, tidak berkomunikasi setiap hari. Tetapi Haris selalu ada ketika Rania membutuhkannya. 

Sampai akhirnya hampir setahun setelah pertemuan mereka kembali. Rania memutuskan untuk menyatakan dan memepertanyakan sikap Haris. Karena dia tidak mau selalu bimbang dan Haris kembali menghilang seperti dulu. Salah seorang sahabat Rania mengatakan, dengan mempertanyakan keberadaan Haris, akan bisa mambuat Haris menghilang kalau seadainya Haris tidak punya perasaan apa-apa ke Rania. Resiko yang harus Rania hadapi. Namun sebelum sempat Rania bertanya, Haris sudah menyatakan sesuatu kepada Rania. Saat itu mereka sedang berada di sebuah kafe  sepulang dari kantor. Menunggu hujan reda.

“Aku mau berterima kasih sama kamu Rania.”

“Untuk?”

“Sudah mau menjadi sahabatku selama ini. Aku sangat bahagia kita bisa bertemu lagi. Dan aku tahu, aku akan jahat jika menyatakan ini padamu.”

“Maksudnya?” Rania sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan Haris.

“Aku tahu kamu punya perasaan sama aku selama ini. Bahkan sejak SMA, aku tahu. Karena itulah aku menghilang pergi dari kamu. Karena tidak ingin membuat perasaan kamu smakin besar ke aku.”

“Lalu kenapa kamu menyapa aku sewaktu kita bertemu lagi waktu itu?”

“Aku berfikir perasaan kamu ke aku sudah hilang, tetapi teryata aku salah. Aku kembali membuat kamu berharap bukan?”

“Jadi maksudnya kamu sekarang pun tidak memiliki perasaan apapun ke aku? Lalu kenapa kamu selalu ada ketika aku membutuhkanmu?”

“Karena kamu itu sudah aku anggap sebagai adik aku sendiri Rania. Sungguh pernah aku mencoba untuk menyukaimu lebih dari itu tetapi aku nggak bisa. Dan sekarang ini pun, aku sudah mempunyai seseorang sebagai calon istriku. Dia tahu tentang kamu. Dia yang memintaku untuk berterus terang, karena dia tidak mau membuat kamu juga semakin berharap sama aku. Membuat aku semakin menyakiti hatimu.”

Rania terdiam. Hujan di luar tiba-tiba menjadi menyeramkan bagi Rania.

“Terima kasih atas kejujuranmu. Dan mungkin butuh waktu buatku untuk menerima semua ini.” Rania berkata sambil menahan tangis.

Rania beranjak dari kursinya.

“Aku pergi, semoga kita suatu saat bisa bertemu lagi.”

“Di luar masih hujan, Rania.”

Rania tidak memperdulikan ucapan Haris. Dia ingin menikmati hujan yang membuatnya jatuh cinta dan juga terluka. Hujan semakin deras, begitu juga air mata Rania.

“Rania! Maafkan aku.” Haris berteriak dari depan kafe. Dia menahan diri untuk mengejar Rania. Karena dia mengerti Rania ingin menyendiri saat ini.

Rania berbalik dan memandang Haris. Hujan tidak akan membiarkan air matanya terlihat oleh Haris. Rania melambaikan tangan dan tersenyum ke arah Haris.

Dan Rania berlalu dalam hujan, membiarkan cinta dan rindunya luruh oleh hujan...


****


Dee


Tema tantangan menulis dari The Jones Group yang bersumber dari Gita sang Princess Samosir eh Princess Spanyol adalah sepuluh (10) fakta tentang diri. Aduh ini apa lagi ya temanya. Nggak bisa gitu tema tentang infotainment yang lagi heboh, atau masalah politik yang lagi panas. Biar kayak orang-orang yang lagi membela “jagoannya” masing-masing. Gaya beuddd, ntar disuruh nulis politik mual sendiri.

Berdasarkan pengertian dari KBBI, fakta itu adalah sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi. Fakta tentang diri sendiri sih pasti banyak, namun terkadang suka lupa diri, ehhh maksudnya nggak ngeh sama diri sendiri. Sepertinya harus mengenal diri sendiri lebih dalam, lebih tajam dan terpercaya. Serba salah juga ini, kalau yang ditulis fakta yang baik-baik nanti dikira sombong. Kalau yang jelek-jelek nanti dibaca calon mertua ntar anaknya disuruh nikah sama yang lain lagi. Kan repot urusannya. *sehat mbak?*

Jangan sampai panjang deh mukadimahnya. Silahkan disimak ya, 10 fakta-fakta tentang seorang Deesan:

1.  Deesan itu aslinya cengeng lho. Casing-nya saja yang sok kuat seperti wonder woman, bak Xena The Warrior. Padahal gampang terenyuh dan iba. Namun bukan berarti, airmatanya sembarangan ya keluarnya. Milih tempat dan situasi juga sih ahahaha. Makanya airmatanya seringnya jatuh ke “dalam”, biar orang lain nggak tahu. Jadi meski cengeng, nggak mau terlihat rapuh, tetap harus menjadi wanita perkasa. Selain biar tetap terlihat gagah berani, Deesan juga penganut moto, "kabarkan bahagiamu pada dunia, simpan sedihmu sendiri". *nyesek banget sih mbak*

2.   Deesan itu “segan” sama anak kucing. Apalagi kalau yang baru lahir. Beuhhh, bisa loncat dan jumpalitan ke atas meja melihat anak kucing merayap-rayap dengan tanpa dosanya. Ini bukan takut lho ya, nggak enak saja kalau anak kucing itu sampai terinjak sih. *ngeles deh mbak*. Tapi itu dulu sih kayaknya, entah sekarang. Sudah jarang gaul sama anak kucing, ahahaha. Satu lagi, takut sama ayam hidup ataupun ayam yang baru mati. Ehhh bukan takut, segan deng ahahaha. *Kok bisa makan ayam mbak?* Kan udah matang dan diolah. Ayam hidup sama yang baru mati itu kan badannya panas. Ngeriii megangnya. *Ihhh, tapi kan ayam goreng juga panas lho mbak*.  Situ pengen digoreng?

3.  Deesan itu kalau mentok milih menu, yang dipilih ujung-ujungnya pasti nasi goreng. Males mikir soalnya. *Punya mbak?*. Alasannya karena nasi goreng kan sudah meng-Indonesia, sudah jelas bentuk dan rupanya. Paling rasanya ya kalau nggak kurang bumbu, standar, enak dan enak sekali. Deesan itu juga kalau makan pun bisa bertahan dengan menu yang sama berhari-hari sampai eneg sendiri. Tipikal orang yang setia soalnya. Sama menu makanan saja setia, apalagi sama orang. Yang bacanya mau muntah silahkan lho. Oh iya satu lagi masalah makan, Deesan itu kalau makan dikit cukup, banyak ya habis, begitu kalau kondisi pada umumnya. Kecuali dalam kondisi nggak normal, misalnya lagi sakit, ya terserah sakit badan atau pun sakit hati.

4.  Deesan itu paling sungkan kalau nonton film horor, secara hidupnya saja sudah horror *nggak usah ketawa*. Jadi nggak usah diajakin nonton yang seram-seram. Kalau ada yang komentar, “biar kuat dan berani gitu lho nonton yang begituan”. Tanpa menonton film aneh itu pun hidup seorang Deesan sudah cukup kuat dan berani kok. “Idihhh sekedar film saja kok takut sih”. Situ pernah diketawain mbak Kunti beneran? Pernah disapa sama hantu diajakin main? Cukup sekian ya pengalaman hidupku. Nggak pake lagi musti nonton yang aneh-aneh yang akan bisa membuat terbayang-bayang sampai berhari-hari. Ada pilihan membayangkan yang lebih indah, kok ya milih membayangkan yang horor.

5. Deesan itu suka mengumpulkan “masa lalu”. Jangan negatif dulu mikirnya, bukan mengumpulkan kenangan tentang mantan dan mengenangnya. Memangnya mantan itu pahlawan apa musti dikenang. Maksudnya adalah suka mengumpulkan benda-benda “purbakala” yang masih layak untuk disimpan. Seperti buku-buku jaman sekolah/kuliah atau surat-surat yang jaman dulu sama kakak-kakak, sahabat atau teman. Surat dari pacar nggak ada ya? Belum boleh pacaran waktu itu. Ehhh pernah deng dapat surat cinta, tetapi langsung disobek-sobek. Kan dulu anaknya pemalu. *sekarang malu-maluin ya mbak*

6. Deesan itu bisa bertahan nggak keluar rumah berhari-hari. Bahkan sampai nggak membuka pintu sama sekali. Satu kuncinya, dengan menyiapkan pasokan makanan yang cukup ahahaha. Pernah kejadian ditanyain sama tetangga, kirain orangnya kenapa gitu sampai nggak keluar rumah *amit-amit*. Males aja sih, nggak ada kepentingan apa-apa juga, kalau buka pintu musti pakaian lengkap. Jadi mungkin ini bisa jadi salah satu penyebab kenapa seorang Deesan jarang pulang kampung. *sambungin ajaaa terus mbak*

7.   Deesan itu sangat pandai membungkus cerita hidupnya dalam bentuk tawa yang renyah serta celetukan yang spontan. Wuihhh ini masukan dari seorang Uni Rasa lho, jadi kalau mau protes silahkan protes pada yang bersangkutan. Terus malah ada tambahannya dari dia, Deesan itu cekatan, rajin dan pernah juara umum pula di sekolah. Tadinya nggak mau nulis, takut dikira pamer, sombong. *Lah kenapa ditulis juga?*. Kata Uni Rasa kan itu kenyataan, jadi nggak apa-apa kalau disampaikan. *lari sebelum ditimpuk orang sedunia* 

8. Deesan itu rada parno sama jarum suntik, bau rumah sakit, dan darah. Pernah punya pengalaman pahit sama jarum suntik. Pernah ketinggalan jarum di badan karena patah, pernah pingsan habis disuntik. Terus udah kejadian begitu susternya marah-marah lagi karena panik *santai aja sih Sus*. Kalau sama bau rumah sakit tuh, nggak suka bau obat-obatannya. Kesannya horor aja gitu. Semoga terjauh dari segala penyakit. Amiinn. Sama darah, bukan yang parah-parah banget sih, kalau parah tiap bulan pingsan dong lihat darah sendiri. Pokoknya nggak bisa deh liat darah ngalir, kayak donor darah gitu. Pernah pingsan lihat orang donor darah. Tetapi itu sih kayaknya campur aduk penyebabnya, bau obat-obatan, lihat darah sama belum makan dua hari sepertinya *lucu deh mbak*
Tetapi ini parnonya yang nggak parah-parah banget sih untungnya, tapi jangan diajakin uji nyali juga.

9.  Deesan itu moody-nya parah banget sebenarnya. Hanya saja nggak terlalu kentara. Ehhh atau kentara ya? Contohnya di masalah sosmed deh, kalau lagi mood ya bisa rajin lah tuh buka-buka sosmed. Baca, rajin buka dan baca status orang aja, trus nge-like atau nge-love. Kalau lagi keluar malesnya ya bisa lama juga ngga buka atau buka tapi sekedar scroll doang. Lama ini mungkin bukan hitungan minggu atau bulan ya, sehari nggak buka itu udah termasuk lama itu ahaahaha.
Tetapi jangan tanya perihal ganti-ganti pp di sosmed ya kecuali WA, kalau kata Mhimi hitungan abad baru diganti. Entahlah itu pengaruh mood juga atau memang dasar pemalas ahahaha. Banyak hal sih, pengaruh mood ini, tetapi nggak usah diperjelas deh, ntar makin jauh jodohnya #ehhhhh *sehat mbak*

10. Deesan itu jatuh cinta pertama kali sewaktu SD. Ehhh bukan cinta kali ya, suka-suka gitu deh. Dan cowok yang disuka itu masih hidup lho sampai sekarang, ehhh maksudnya masih ada dan bisa terlihat wujudnya sampai sekarang. Tenang-tenang, dia sudah nikah kok, jadi nggak ada yang perlu dikhawatirkan. *geer banget sih, siapa juga yang khawatir* Lagian sekedar suka-sukanya bocah zaman SD gimana sih. Lihat-lihatan doang saja udah seneng. *Nandez penasaran pasti sama orangnya*

Sekian sepuluh fakta tentang seorang Deesan. Beberapa hal sih orang-orang juga sudah tahu. Namun ada beberapa hal yang sepertinya nggak mungkin dibahas di sini *padahal nggak ingat*, kalau ada yang mau menambahkan silahkan. Karena terkadang kita sebagai manusia kurang mengenali diri sendiri, karena sibuk “mengurus” orang lain. Yang berarti bukan lebih perduli sama kesusahan orang lain, tetapi lebih perduli sama urusan dan kekurangan orang lain ahahaha. Yukkk kenali diri sendiri, lebih perduli pada diri sendiri, memaafkan diri sendiri, membahagiakan diri sendiri *ambil kaca*

Semoga hari kalian menyenangkan dan jangan lupa bahagia ^-^


Dee




Salah satu pengertian LDR menurut mbah Google adalah singkatan dari Long Distance Relationship atau hubungan jarak jauh yaitu hubungan yang sedang dijalani antara dua orang namun terpisah oleh jauhnya jarak dan waktu yang memisahkan. Ada apa bahas-bahas LDR? Seperti biasa tantangan dari The Jones Team. Kali ini tema bersumber dari Nandez si Pangeran Bangko. Entahlah pasal apa yang menbuat dia memilih tema ini. Mungkin pernah tersakiti karena LDR atau sedang LDR bahkan mungkin berniat LDR? Bisa jadi semuanya pernah dan akan dia lewati ahahaha. Ehhh tapi ini kan nggak bahas hidupnya dia. Okelah mari menulis.

Sebelum membahas LDR sebagai bentuk hubungan dengan seseorang yang spesial di hati, aku ingin membahas LDR yang sudah aku jalanin semenjak kecil dengan keluarga yang juga pastinya sangat punya tempat teristimewa di hati. Karena dalam sejarah hidupku sepertinya LDR itu bukan hal baru lagi.

Semenjak umur dua tahunan, aku sudah ditinggalkan oleh ibu, karena sakitnya. Aku yang masih sangat kecil saat itu, belum mengerti sama sekali akan kepergian ibu. Selain beliau ada beberapa orang yang sangat aku sayang, yang sudah terlebih dahulu pergi. Tanteku yang sangat baik. Dia pergi juga karena sakit. Aku tidak melihat langsung kepergiannya kala itu. Karena lagi sekolah di Padang. Kakekku, ayah dari ibuku, yang aku panggil Ayah, pergi meninggalkanku ketika aku tinggal ke pasar di kampung. Aku libur kuliah saat itu. Beliau masih sempat menitip makanan ketika aku mau pergi. Kondisi beliau lagi sakit. Ketika sampai di rumah, beliau ternyata sudah pergi. Tidak sempat mencicipi makanan yang dipesannya. Kemudian Nenekku, ibu dari ibuku, yang aku panggil Mak. Beliau pergi saat aku sudah bekerja di Bintaro. Aku mendapatkan kabar ketika berada di angkutan umum. Aku tidak bisa pulang waktu itu. Hanya tangis dalam diam dan doa yang aku sampaikan dari jauh.

Kepergian ibu mungkin baru berasa setelah aku remaja. Sementara kepergian Tante, Ayah dan Mak  sangat aku rasakan ketika mereka tiada. Hanya kuburan ibu yang pernah aku saksikan. Tidak dengan kuburan Tante, Mak dan Ayah. Entahlah, apakah kebetulan belum sempat atau memang aku yang secara sengaja tidak mau melihat “tempat tinggal mereka”.  Untuk menepis kerinduan terhadap mereka, aku selalu menganggap mereka pergi untuk sementara. Pergi ke tempat yang aku tidak mungkin bisa datang sesukaku. Dan begitu juga mereka tidak bisa datang sesuka mereka lagi. Mereka selalu ada, tetapi tiada. Hubungan kami sangat jauh. Terpisah jarak, ruang dan waktu. Saat rindu menerpa, aku harus bisa menahannya dengan caraku sendiri.

Ketika aku memasuki kelas dua SMA, aku sudah tinggal sendirian di Padang. Karena keluargaku pindah ke kampung. Sampai aku masuk perguruan tinggi pun terpisah dari mereka. Yah, mungkin bisa dikatakan jarak dengan keluargaku tidak terlalu jauh. Masih satu pulau, satu propinsi, tetapi sudah beda kota. Tetapi tetap dalam keseharian aku tidak bersama mereka. Setelah lulus kuliah, beberapa bulan kemudian aku memutuskan untuk merantau ke pulau Jawa. Sekitar tahun 2000 aku pergi dari kampung. Semenjak itulah aku semakin terpisah jarak dari keluarga. Tinggal sendiri, merasakan berkali-kali lebaran sendiri, sakit pun dihadapi sendiri sudah menjadi bagian dalam perjalanan hdupku semenjak merantau. Tidakkah rindu pada keluarga? Itulah hebatnya anak rantau kawan, mereka tahu menempatkan rasa rindu itu dimana dan bagaimana.

Kita kembali ke kasus LDR. Kalau dipikir-pikir akupun selalu menjalin hubungan dengan seseorang yang terpisah jarak dan bahkan waktu, kalau ruang sih belum pernah. Amit-amit, ahahaha. Apa nggak capek menjalin hubungan berjauhan gitu? Apa ya jawabannya, mungkin Tuhan itu selalu memberikan jalan sesuai dengan yang kita mampu. Mungkin kalau aku bilang, aku sudah terbiasa kok LDR sama keluarga sendiri, masak sama orang yang baru dikenal beberapa lama dalam hidup nggak bisa? Walaupun ada korelasinya, tetapi mungkin konteksnya berbeda. Karena jenis hubungannya kan berbeda. Persamaannya adalah, terbiasa jauh dengan keluarga, menyebabkan jauh dari seseorang menjadi hal biasa juga. Bukan suatu hal yang perlu terlalu dipermasalahkan juga. Apalagi dengan teknologi yang sudah canggih sekarang ini.

Perbedaannya adalah, pada tingkat kepercayaan. Karena sudah pasti keluarga tidak akan pernah mengkhianatimu. Kata khianat ini jangan  membahas sengketa keluarga dan sebagainya yang tidak baik. Kita abaikan saja kasus khusus dengan keluarga yang seperti itu. Tetapi pada dasarnya kau tidak akan perlu was-was misalnya keluarga akan tiba-tiba tidak menganggapmu sebagai bagian dari mereka. Bahkan perselisihan dengan keluarga pun tidak akan merubah status menjadi “mantan”. Mantan anak, mantan adik, mantan kakak misalnya.

Namun tidak begitu halnya dengan pasangan yang sedang LDR. Karena bisa saja tiba-tiba ada yang khianat dari salah satu kita. Karena sejatinya yang paling utama dari LDR ya itu kepercayaan. Ketika itu percaya nggak ada, habis sudah, sebaiknya hentikan saja daripada bikin sakit kepala sendiri. Ada yang bilang, yang dekat saja bisa khianat apalagi yang jauh. Itu mah emang udah niatnya. Hal lain yang penting dalam LDR itu adalah komitmen. Komitmen dalam berkomunikasi. Sesibuk apapun, sempatkanlah tetap saling memberikan kabar. Tidak membutuhkan waktu lama, hanya sekedar berkirim kabar.

Mereka yang sedang menjalankan LDR, sungguh termasuk orang-orang yang tangguh. Harus menjaga hubungan tetap berjalan dengan baik, harus memupuk rasa percaya yang penuh, belajar artinya sabar, belum lagi menerima bully-an orang-orang.

“Duhhh daripada LDR mending jomblo deh, sama aja penderitaannya.”

“Nggak ada yang deketan apa? Musti yang jauh gitu?”

“Nggak Lelah Dilanda Rindu?”

“Hati-hati lho, udah setia nggak taunya Lha Diselingkuhin Rek”

Lha iya sih, kalau semua bisa memilih, setiap orang mungkin tidak memilih untuk LDR. Tetapi kalau pada kenyataan harus menjalaninya. Apa yang bisa dilakukan? Menjalaninya kan berat. Ya, tetapi setiap hubungan dekat atau jauh pun tetap ada masalah bukan? Kalau dibilang yang LDR lebih rentan masalah mungkin. Terus jalan keluarnya? Nikmatin saja. Tidak mau bermasalah dalam menjalin hubungan dengan seseorang? Hidup sendiri saja. Namun tetap akan bermasalah jikalau sendiri bukan? Itulah intinya sebentuk apapun, semua hubungan akan mempunyai permasalahan sendiri. Hadapi saja. Itu sudah jawabannya. Tidak perlu teori, trik khusus. Percaya, sabar dan komitmen.

Kalau segampang itu, kenapa mereka yang LDR seringnya tidak berjalan mulus? Karena untuk menjalankan 3 hal tadi itu bukan perkara mudah, kawan. Percaya, jangankan percaya sama pasangan, percaya ama diri sendiri saja seringnya kita bermasalah. Sabar, memangnya sabar itu mudah. Sabar itu mudah kalau diucapkan, apalagi yang ucapin orang lain. Terasa ringan banget. Komitmen, juga bukan merupakan hal yang sepele. Komitmen itu harus dari kedua belah pihak. Tidak mungkin jika hanya salah satu pihak yang memegang teguh komitmen itu. Terus tadi katanya tidak perlu teori atau trik khusus, bagaimana menjalankan semua yang terlihat tidak mudah itu? Ya, tinggal dihadapi dan dijalankan. Kemana arahnya, dimana muaranya nanti, serahkan pada takdir yang sudah tersurat. Terpenting itu ada usaha untuk menjalankannya semampu dan sebaik-baiknya.

 “Bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan itu sendiri. Kamu pernah merasakan sukanya, sesuatu yang sulit dilukiskan kuas sang pelukis, sulit disulam menjadi puisi oleh pujangga, tidak bisa dijelaskan oleh mesin paling canggih sekalipun. Bagian terbaik dari jatuh cinta bukan tentang memiliki. Jadi, kenapa kamu sakit hati setelahnya? Kecewa? Marah? Benci? Cemburu? Jangan-jangan karena kamu tidak pernah paham indahnya jatuh cinta.” – Tere Liye.

Indah dan sepertinya mudah bukan kalimat itu? Tetapi untuk sampai pada titik tersebut, sangat diyakini sangatlah sulit. Sudah memasuki fase yang namanya ikhlas. Jelas ini bukan hanya untuk yang sedang LDR, tetapi buat semua yang sedang menjalin hubungan. LDR atau bukan, hadapi dan nikmati saja prosesnya, Jika semesta mendukung, kau tidak perlu berdarah-darah untuk memperjuangkannya. Milikmu akan menjadi milikmu, jika tidak biarkan dia pergi meski ada rasa sakit yang akan tersisa. Begitu adanya kata-kata orang bijak pernah menjalaninya, entah siapa. Mungkin aku, kamu, dia, atau mereka.


Dee







Ibu…
Tidak terasa ya, sudah begitu lama dirimu pergi, sudah sangat lama kita berpisah. Aku masih dua tahun-an kala itu, ketika dirimu tiada. Raut wajahmu saja, tidak bisa aku mengingatnya. Apalagi pelukan dan kasihmu. Terlalu belia aku saat itu. Aku hanya bisa mendengar dari cerita keluarga dan orang-orang sekitar, bahwa dirimu adalah ibu yang sangat tegas namun penuh kasih. Mereka pun bertutur, saat kepergianmu, aku hanya sibuk bermain. Tidak ada kesedihan ataupun tangisan sama sekali. Aku sangat riang karena begitu banyak orang yang datang. Maafkan aku yang saat itu tidak mengerti akan arti sebuah kehilangan. Aku tidak memahami, bahwa hari itu adalah terakhir kalinya aku bisa bertemu denganmu. Aku pun sepertinya tidak pernah merindukan dirimu setelah kepergianmu. Maafkan aku, ibu…

Ibu…
Saat beranjak remaja, aku mulai mencari dan merindukan sosokmu. Aku mulai mempertanyakan kenapa dirimu pergi begitu cepat. Kenapa dirimu tidak seperti ibu-ibu lain yang selalu menemani hari-hari anak mereka. Aku sepertinya merasa dirimu egois dan Tuhan tidak adil. Kenapa teman-temanku bisa bersama ibu mereka dengan waktu yang lebih lama, tetapi kenapa dirimu tidak. Aku selalu iri melihat teman-teman yang dipeluk ibunya, iri mendengar cerita mereka tentang ibunya, bahkan aku terkadang iri melihat mereka dimarahi oleh ibunya. Betapa aku sangat menginginkan dirimu hadir kembali dalam hidupku kala itu. Aku mendambakan dekapan yang tidak pernah kurasakan. Mengharapkan kasih sayangmu yang sangat aku harapkan.  Aku rindu, ibu…

Ibu…
Setelah dewasa, baru aku menyadari arti kepergianmu. Bukan karena egoismu atau Tuhan yang tidak adil. Tetapi karena memang sudah waktunya dirimu pergi. Andaikata bisa memilih, kau pun ingin tetap bersama kami, anak-anakmu. Melihat kami tumbuh dewasa. Kepergianmu mungkin juga karena Tuhan tidak ingin kami menyakiti dirimu. Betapa banyak aku mendengar orang-orang yang mengeluhkan ibu mereka, ibu yang terlalu mengekang, terlalu cerewet, terlalu mengatur atau bahkan ibu yang terlalu diam sekalipun ada saja salah di mata mereka. Aku mungkin saja bisa menjadi seperti mereka andai diberi kesempatan bersamamu lebih lama. Tidak menghargai arti kehadiranmu. Terima kasih telah hadir di kehidupanku, walau hanya sebentar, ibu…

Ibu…
Maafkan aku yang terkadang alpa menyebut namamu dalam doaku. Aku terlalu sibuk walau hanya sekedar untuk mendoakanmu. Bukan, bukan karena aku melupakanmu. Anakmu ini terkadang lalai hanya untuk sekedar meminta kebaikan untukmu di sana. Anak seperti ini kah yang mungkin akan menjaga masa tuamu andai kau masih ada? Aku mungkin saja lebih memilih kesibukanku sendiri daripada bercengkrama denganmu. Aku mungkin juga lebih memilih pergi bersama teman-temanku daripada menemanimu di kala senggangku. Anakmu ini mungkin saja hanya akan mengunjungimu bila sempat. Pantaskah aku berharap kau seharusnya lebih lama bersamaku? Di sana adalah tempat terbaikmu. Aku menyayangimu, ibu…

Ibu…
Aku sudah merelakan pergimu. Namun ada saat dimana aku merindukanmu. Bukan karena aku anak yang rapuh. Aku hanya ingin sejenak merasakan kehadiranmu, kasihmu. Kasih yang tidak pernah tertanam dalam memoriku. Sedikitpun, benar-benar tidak ada bayangan tentangmu. Tetapi dirimu selalu ada di hatiku. Kau tahu ibu, dalam diam aku terkadang menangis mengingatmu. Di saat seperti itu aku ingin kau mendekapku, membelaiku dengan penuh sayang. Kau pasti menganggap aku cengeng. Biarlah, yang penting aku bisa mengenangmu dengan caraku. Bahagialah di sana, ibu…

Ibu…
Apakabarmu di sana? Semoga dirimu selalu mendapatkan tempat terbaik. Selalu dijaga para malaikat. Semoga tempat peristirahatanmu selalu dilapangkan dan diterangkan. Semoga dirimu selalu tenang dan damai di sana. Anakmu di sini juga baik-baik saja. Yah, terkadang ada masalah yang datang silih berganti. Tetai percayalah, aku bisa melewati semuanya. Anakmu ini cukup tangguh ibu. Banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu. Tetapi aku tidak ingin mengganggu istirahatmu. Tidurlah dengan tersenyum dan bahagia. Peluk cium dari anakmu. Terima kasih untuk semuanya, ibu…


  Mother, how are you today?
Here is a note from your daughter
With me everything is ok
Mother, how are you today?

*****

Dee