Teruntuk: Kamu yang pernah singgah di hati...

Apakabarmu? Ahhh pertanyaan bodoh. Aku seperti mengais kembali tumpukan masa lalu. Mencari secuil kenangan yang mungkin masih tersisa. Mengorek-ngorek kembali luka yang telah kering. Membuka lembaran cerita lama yang telah usai. Usai? Benarkah cerita itu telah usai? Sepertinya masih ada yang tertinggal. Aku menghela nafas. Terasa sesak. Harus ada yang aku selesaikan…

Kau tahu, ketika kau memilih untuk pergi, aku sangat kehilangan. Mencarimu di setiap sudut kenangan. Menunggumu dalam keheningan. Dengan setia menunggu kabarmu. Menatap layar handphoneku dengan harap, kau kembali menyapaku. Seperti biasa yang kau yang lakukan. Harapan itu terus aku pupuk. Aku lupa akan  kenyataan. Kau benar-benar telah memilih untuk pergi…

Aku tidak pernah menceritakan tentang dirimu pada siapapun. Baik ketika aku mengenalmu, saat bersamamu, dan bahkan  saat kau pergi.  Aku memendamnya sendiri. Aku tenggelam dalam dunia baru tentangmu. Bersamamu aku merasa sangat bahagia. Sampai saatnya kau pergi tanpa kata. Begitu saja. Dunia yang ku bangun runtuh seketika. Tetapi aku tetap menyimpannya dalam diam. Menangisimu dalam sunyi…

Ada saat dimana aku ingin mencarimu, hanya sekedar ingin tahu jawaban atas tanyaku. Kenapa kau pergi? Tidak bisa kah kau mencari alasannya. Bahkan andai kata mengada-ada sekalipun. Akan lebih baik sepertinya.  Sehingga aku tidak menyalahkan diriku sendiri berlarut-larut. Aku sibuk dengan pikiran bahwa kau pergi karena kesalahanku. Kau pergi karena sudah tidak menginginkanku. Tetapi kenapa? Aku hanya butuh jawabmu...

Mereka yang membaca ini, mungkin menganggap aku terlalu berlebihan. Ya aku yang memang terlalu berlebihan. Berlebihan mempercayai setiap  janji  dan kata-katamu. Berlebihan mencintaimu melebihi diriku sendiri. Berlebihan menganggapmu akan memenuhi semua rencana yang kita impikan. Bahkan di saat aku aku mengetahui sulit untuk kita bersama. Aku tidak perduli. Aku tetap menganggap cintamu adalah kesempurnaan....

Sampai di masa aku tertegun. Sampai kapan aku harus menjalani kehidupan seperti ini. Menunggu tanpa kepastian. Menganggapmu adalah segalanya adalah kesalahan. Sungguh sebuah kesalahan. Aku juga tidak mengerti apa yang membuatku tersadar. Sepertinya lelahku menunggu membuat aku menyadarinya. Betapa aku telah tidak adil dengan diriku sendiri selama ini. Teramat sangat...

Siapa dirimu, yang membuatku lebih menghargai sapaan selamat pagimu, daripada mentari pagi yang masih selalu bersinar. Siapa dirimu, yang kuanggap sempurna padahal kau manusia biasa. Siapa dirimu, sehingga aku begitu menganggap kau adalah segalanya, padahal kau bukan siapa-siapa. Siapa dirimu, yang membuatku merasa dunia akan runtuh, padahal kiamat pun belum tiba. Siapa dirimu, yang membuatku lebih percaya kita akan bersama selamanya, padahal masih ada Tuhan di atas sana...

Aku tersadar, pecuma menunggu dan menantimu. Bahkan jawaban atas pergimu pun sudah tidak aku hiraukan. Setelah berapa lama aku baru tersadar. Kau pergi dengan diam, aku pun akan pergi dalam diam. Ahhh, inilah yang aku bilang masih ada yang belum selesai. Aku selesai denganmu tetapi tidak dengan diriku sendiri. Pergimu sudah kurelakan. Tetapi pergimu meninggalkan luka yang membuatku tidak pernah bisa mempercayai lagi bahwa cinta itu ada...

Aku menutup diri untuk semua cinta, menutup semua ruang di hatiku. Tanpa sisa. Aku menganggap  semuanya hanya akan sama, berakhir dengan luka. Semua akan pergi tanpa kata, seperti dirimu. Tidak pernah akan kubuka lagi pintu hati ini. Jikalau rasa sakit itu hanya akan sama saja. Untuk apa mencoba sesuatu yang sudah jelas akhirnya? Ternyata aku belum sepenuhnya kembali...

Tujuh tahun sudah kuhabiskan hanya untuk memeluk masa lalu itu. Tetap memilih hanya mempunyai kenangan tentangmu. Erat. Tidak mau melepaskannya. Aku terbuai karenanya. Enggan untuk beranjak pergi. Sehingga aku pun mengunci rapat pintu hatiku untuk membuat kenangan yang lain. Ini hanya membuatku sepertinya tidak tergantikan. Hanya tentangmu dan tentangmu...

Namun benar adanya, waktulah yang akhirnya menyembuhkan lukaku. Sekarang baru aku sadari, terlalu lama waktu yang kubutuhkan untuk itu. Tetapi harus kah  aku menyalahkan waktu dan diri sendiri. Tidak. Cukup sudah waktu yang terbuang dengan menangisimu dan menyesali diri selama ini. Aku mencukupkannya dan memberanikan diri menulis ini. Terima kasih untuk semua yang pernah terjadi. Semoga kebahagiaan menyertai kehidupan kita masing-masing. Saatnya nanti jikalau kita berjumpa, marilah kita saling menyapa seperti layaknya teman biasa...

Dari: Aku yang pernah tersakiti...

**********************************************

Tema dari The Jones kali ini seperti nantangin ya ahahaha. Patah hati. Berat? Biasa saja sih temanya. Tema ini sudah makanan biasa. Asekkk, patah hati terus nih mbak ahahaha.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, patah hati adalah kecewa karena putus percintaaan, kecewa karena harapannya gagal. Secara teori yang namanya jatuh cinta akan dipastikan berakhir dengan perpisahan. Entah itu karena sudah tidak sejalan, ketidakcocokan, atau kepengecutan salah satu pihak atau bahkan terpisah ruang dan waktu. Tidak ada yang abadi. Semua pasti ada akhirnya. Ini secara teori, tetapi pada kenyataannya kita akan lebih siap untuk jatuh cinta tetapi sangat tidak siap untuk sebuah perpisahan. Baik itu perpisahan secara baik-baik, apalagi perpisahan dengan cara yang tidak baik. Dalam konteks selanjutnya mungkin yang akan aku bahas adalah patah hati karena salah satu pihak pergi, tanpa penjelasan apa-apa.

Yang namanya jatuh cinta, itu sudah sepaket dengan namanya yang patah hati. Namun paketnya ini berbeda-beda kemasannya. Dan cara masing-masing orang juga berbeda untuk menyingkapinya. Ada yang bisa dengan cepat menata hatinya kembali, tetapi ada juga yang butuh waktu lama untuk kembali merasa biasa. Entahlah penyebabnya apa. Apa mungkin salah satunya adalah cara pandang terhadap cinta itu sendiri. Terlalu menempatkan seluruh harapannya pada seseorang.

Merasa dia adalah segalanya, padahal dia adalah orang asing yang baru kita temui dalam hidup kita. Sehingga ini lah yang menyebabkan kenapa perpisahan menjadi menyakitkan. Dia terlalu berarti, dia adalah nafasku, dia adalah duniaku. Bagaimana dengan dirimu sendiri, apakah tidak berarti? Nafas? Ingat yang memberikanmu nafas itu Tuhan. Dunia nyatamu adalah yang masih berputar, bukan dunia yang kau ciptakan sendiri. Namun sama dengan halnya orang yang sedang jatuh cinta, mungkin juga sulit untuk memberikan nasehat pada mereka yang sedang patah hati. Karena yang merasakan adalah mereka.

Tidak ada yang salah dengan patah hati. Tetapi kelamaan menikmati patah hati bahkan sampai tidak mau jatuh cinta lagi adalah kesalahan. Hidup terlalu singkat kalau hanya diisi meratapi kepergian orang yang memang bukan jodohmu. Itulah harusnya pemikiran yang ada di pemilik hati yang sedang patah. Namun seperti yang tadi dikatakan, bahwa cara kita menyikapinya ya tergantung diri sendiri. Karena tidak akan ada yang bisa menyembuhkan patah hati kalau bukan dari diri sendiri.

Mungkin ada yang berkata, bicara sangat mudah. Ya memang benar, tetapi aku pernah pada posisi dimana terlalu lama menikmati rasa sakit itu. Sulit untuk meyakinkan diri sendiri, sulit untuk membuka diri. Apakah menyenangkan tentu saja tidak. Membuat diri tertutup, tidak pernah mau mencoba membuka hati, dan bahkan “menyalahkan” Tuhan atas apa yang terjadi. Menuding keadaaan, padahal diri sendirilah yang tidak mau berubah. Takut untuk melangkah dan mungkin akan merasakan kembali jatuh dalam kondisi yang sama. Kalau tidak ingin jatuh, duduklah dalam diam, menunggu kematian.

Buat para hati yang sedang tersakiti, sudahi sakit itu. Memang butuh waktu tetapi jangan terlalu berlarut-larut. Dia memilih pergi artinya dia bukan  jodohmu. Berharap suatu saat dia akan datang kembali? Yakin kah dia adalah orang yang dulu kau kenal? Berikan kesempatan pada dirimu sendiri untuk berbahagia. Jangan biarkan jodohmu terlalu lama menunggumu membuka hati.

Bagi para pencipta patah hati, satu pesan untukmu. Ketika rasa berubah, ketika cinta lenyap sudah, atau alasan lain yang entahlah, janganlah pergi begitu saja. Ucapkan selamat tinggal, walaupun itu akan terdengar menyakitkan. Tetapi akan lebih baik, daripada kau pergi begitu saja. Tanpa kata…



Dee














“Hari gini masih jomblo? Nggak banget ihhh.”

“Malam mingguan sendirian aja ngapain sih kalau jomblo ya?”

“Sedih nggak sih nggak punya pasangan?”

Begitulah segelintir ungkapan atas ke-ngenes-an nasib jomblo. Dan status ngenes sebagai jomblo itu akan lebih lengkap karena lu ada di NKRI tercinta. Mau lebih ngenes se-ngenes-nya? Di saat hari dimana harusnya menjadi ajang silaturahmi, ajang kembali fitrah tetapi menjadi ajang bullying terselubung buat para jomblo. Pertanyaan "kapan nikah" buat jomblo yang “sepatutnya” sudah harus menikah menjadi semacam ritual wajib. Dan biasanya ritual ini akan berlanjut menjadi ajang tuduhan. Mulai tuduhan nggak laku, terlalu pemilih, dan beragam tuduhan lain yang membuat para jomblo tersudut. Seharusnya kembali fitrah, bisa jadi malah menyulut amarah. Sulit memang hidup di negara yang sangat “perduli” dengan hidup orang lain ahahaha.

Lihatlah, betapa tidak asiknya ya menjadi seorang jomblo. Ini belum lagi ditambah kalau ada acara reunian, mulai dari reuni TK sampai S3 ahahaha. Belum lagi pertanyaan dan tatapan prihatin dari para tetangga sampai mbak-mbak atau mas-mas dari asuransi yang sering melontarkan kata “Lumayan bu, untuk asuransi keluarganya. Putra atau putrinya umur berapa?” Minta dijambak ya, calon bapaknya saja belum muncul hilalnya. Tetapi apakah iya, nasib menjomblo sedemikian tragisnya?

Kalau dicari di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tidak akan ditemukan kata-kata jomblo. Yang ada adalah jomlo. Pengertian di KBBI jomlo itu adalah gadis tua. Entahlah atas dasar apa itu menjadi gadis tua. Apa maksudnya yang merana kalau jomblo itu hanya para wanita. Yang mengartikan minta digelitik pakai  garpu deh. Pada dasarnya baik itu wanita atau laki-laki, menjomblo tetap menjadi mangsa empuk buat di-bully. Karena mungkin menurut kacamata mereka yang tidak men-jomblo, status jomblo adalah sebuah penderitaan tanpa batas, aib yang teramat sangat, kesedihan tak berujung. Terkesan lebay? Memang karena itulah ke-lebay-an yang selama ini kalian junjung. Menganggap jomblo adalah simbol ke-ngenes-an.

Padahal kalau mau jujur, dibalik ngenes-nya nasib seorang jomblo ada beberapa hal yang diyakini tidak dimiliki bagi mereka yang sudah mempunyai pasangan. Salah satunya adalah “kebebasan”. Tidak bisa dipungkiri bahwa setelah lu punya pasangan, yang namanya kebebasan tidak bisa lagi lu miliki dengan mutlak. Nggak usah pake bilang, “Pacar gue pengertian kok, dia bebasin gue”. Sepengertiannya apa pun pacar atau pasangan lu, sadar atau tidak sadar “kebebasan” itu bukan lagi “hak” lu. Nggak usah mangkir dengan kenyataan ini. Nah kalau pacar atau pasangan lu cemburuan, ucapkan selamat tinggal pada kebebasan. Jalan sama teman dicurigai, di media social nge-like atau nge-love status teman dicemburui, telat jawab telepon dimarahin, dia nggak ngasih kabar galau. Ini segelintir contoh. Belum lagi pertemanan lu dibatasin, medsos lu di-stalker, ngapa-ngapain musti laporan. Kelar hidup lu. Kecuali lu menikmatinya sih. Tetapi mana ada sih manusia yang kebebasannya mau direnggut.

Jomblo itu bebas mau jalan sama siapa saja, online sama siapa saja, berteman dengan siapa saja, hangout sama siapa saja, bebas mengatur jadwal sendiri, tanpa harus memikirkan “perasaan” pasangan, yang terkadang menguras energi. Pada intinya lu jomblo, lu bisa menikmati dunia lu. Bebas sebebasnya. Tentu bebas dalam maksud yang positif ya. Dan para jomblo nikmati hal tersebut sebelum lu punya pasangan. Karena hal ini lah yang sangat “dicemburui” oleh mereka yang punya pasangan. Walaupun mereka seringkali menafikan itu, mengatakan pada para jomblo “apa enaknya sendiri”. Memangnya situ lahir langsung punya pasangan :p. Pasti pernah sendiri kan, dan pernah merasakan betapa “nikmatnya’’ kesendirian.

Jomblo itu memang sendiri, tetapi belum tentu merasa sendirian. Karena dengan statusnya yang masih sendiri, dia bisa melakukan apa saja yang bisa membuatnya bahagia. Bebas mengekspresikan diri, bebas menekuni hobi, bebas melangkahkan kaki kemanapun yang dia mau dan kebebasan lainnya. Ada kok yang sudah punya pasangan juga mempunyai kebebasan seperti halnya jomblo. Bisa jadi sih ada, tetapi seberapa banyak? Dan apa iya bebasnya murni? Coba dijawab sendiri saja buat yang punya pasangan.

Belum lagi ya kalau status lu sudah menikah, bukan pacaran doang. Menikah itu artinya lu sudah punya catatan tertulis bahwa lu sudah tidak bisa seenaknya sendiri. Lu nggak bisa egois memikirkan “mau” lu sendiri. Harus memikirkan pasangan, dan nantinya setelah punya anak harus memikirkan berbagai hal tentang anak. Mulai dari A sampai Z musti lu pikirin. Menikah itu ibadah lho. Menikah itu ajang untuk ladang pahala. Tetapi ingat, jomblo itu juga bukan dosa lho. Jomblo berarti bukan tidak mau menikah, tetapi belum saatnya dia menikah. Kalau sudah urusan pahala dan dosa, mari kita serahkan ke diri masing-masing dan Tuhan. Yang punya pasangan yang menyakiti pasangannya, apa iya pahala yang didapat. 

Seharusnyalah bagi yang mempunyai pasangan ucapkan terima kasih pada para jomblo, karena dengan adanya para jomblo kalian “derajatnya” naik satu level dan kalian punya bahan bully-an. Lagian nggak usah terlalu bangga punya pasangan, karena tidak ada yang abadi di dunia ini. Mati juga nggak ajak-ajak pasangan kan? Emangnya situ Romeo dan Juliet. Di kubur yang ditanya juga bukan siapa pasangan lu ini.  

Jadi kesimpulannya, ke-ngenes-an bukan karena lu jomblo atau nggak. Lu punya pasangan bukan berarti hidup lu paling bahagia, sebahagia ending-nya dongeng Cinderella. Dan lu jomblo bukan berarti pula hidup lu nggak bisa bahagia. Baik yang sudah punya pasangan maupun yang masih menjomblo itu pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Namun sepertinya jomblo lebih terlihat kekurangannya ya, terutama bagi mereka yang sudah “layak” untuk menikah, hal ini tidak luput dari stigma masyarakat kita pada umumnya bahwa menikah itu karena usia, bukan menikah karena saatnya.

 Memang sih seperti halnya manusia biasa, jomblo juga nggak luput dari ketidaksempurnan. Kegalauan pastilah terkadang mendera. Resah juga selintas ada. Tetapi itu bukan bentuk sebuah ke-ngenesan-an. Yang punya pasangan saja boleh galau, masak jomblo nggak boleh. Jadi, nikmatin saja status masing-masing dengan cara kita sendiri. Punya pasangan adalah komitmen, jomblo adalah anugerah. Karena ada orang bijak yang mengatakan, “being single is smarter than being in the wrong relantionship”. Dengan kata lain, siapa yang lebih beruntung, jomblo tetapi bahagia, daripada punya pasangan tetapi merasa sendiri? 

Selamat menikmati ke-jomblo-an selagi masih belum diberikan pasangan yang tepat, di saat yang tepat, dan di koridor yang tepat. Karena sejatinya “Jodoh itu misterius, dia datang begitu saja dan lewat begitu saja – Clara Ng”.


*****

Tulisan ini terlahir karena tantangan dari grup The Jones Goes To Merried ^^

Grup yang beranggotakan empat manusia ajaib yang berasal dari daerah yang berbeda. Ada Gita, wanita Batak yang berdomisili di Jakarta. Mhimi, wanita Makassar yang juga menetap di sana. Ilham, lelaki Jambi yang tinggal di Bangko. Dan aku sendiri, wanita Padang yang merantau ke Jakarta. Nasib mempertemukan kami. Indahnya perbedaan yang kadang melahirkan perdebatan ahahaha. Peace and love ^ ^


Dee






Berdasarkan itinerary, kami paling lama akan berada di Italy. Jadi untuk visa Schengen akan diajukan di kedutaan Italy. Ada yang bilang visa Schengen Belanda lebih gampang dan kalau masuk lewat Belanda juga bisa mengajukan visa di kedutaan Belanda. Namun ada info terbaru lagi, kalau untuk pengurusan visa bukan dari negara tempat masuk pertama kali, tetapi negara yang terlama dikunjungi. Bisa saja sih bikin itinerary palsu dengan bookingan penginapan palsu juga, tetapi biar dilancarkan jalannya mending urus yang benar sekalian, daripada nanti diberi harapan palsu di sana ahahaha.

Untuk pengurusan visa Schengen Italy, pengajuannya tidak langsung ke kedutaannya. Tetapi melalui “pihak ketiga” Pusat Aplikasi Visa (VFSGlobal). Untuk mengetahui syarat-syarat dan tata cara pengajuannya bisa dicek di sini ya. Untuk menghindari antrian panjang, makanya sebelum penyerahan dokumen ke Pusat Aplikasi bisa kita disyaratkan untuk membuat perjanjian penyerahan dokumen. Tanggal dan waktu kedatangan nantinya akan ditentukan setelah kita mengisi formulir online perjanjian.

Disarankan, meskipun di jadwal online semisal disuruh datang jam 11.00, datanglah lebih pagi, karena sesampai di sana, untuk masuk kita juga akan mendapat nomor antrian lagi. Karena pengalaman kemaren ngaret dari jadwal, kami yang seharusnya dijadwalkan jam 11 molor sampai jam 1-an. Tetapi petugasnya sadar diri, langsung minta maaf, dia bilang karena lagi rame banget yang pengajuan visa, dan itu rata-rata grup travel. Yang bikin lumayan bete menunggu adalah kita hanya bengong nunggu antrian. Karena di dalam nggak boleh main handphone, harus di-silence. Coba deh iseng main hape, pasti tiba-iba ada bapak petugas dengan manis tapi rada galak langsung negur ahahaha. Jadi mending bawa buku bacaan atau brosur apa kek yang bisa buat dibaca-baca di dalam :D

Kelengkapan dokumen juga musti diperhatikan, biar nggak bolak balik. Jadi kalau ada yang ragu atau pertanyaan VFS Global juga ada line telepon untuk pertanyaan seputar visa. Tetapi musti dengan kesabaran dan ketabahan mencobanya ahahaha. Tetapi jangan khawatir mereka juga menerima dan melayani pertanyaan lewat email. Dan seperti biasa, urusan visa berasa “judi”. Karena untuk tiket sudah dibeli duluan, trus beberapa tiket kereta dan bus antar negara juga sudah beli. Jadi kalau nggak disetujui visanya nangis darah deh. Kalau untuk penginapan masih aman karena pesan lewat booking.com kan nantinya bisa dibatalkan tanpa fee sebelum batas waktu yang sudah ditentukan. Biasanya sih beberapa hari sebelum hari-H.

Salah satu persyaratan visa adalah asuransi perjalanan. Untuk pengurusan ini juga cukup mudah, bisa online via cekpremi.com. isi formulir onlinenya pilih asuransinya, nanti akan ada pihak cekpremi yang akan telpon/WA. Asuransi yang kami pilih adalah ACA dengan premi USD 36 dan biaya administrasinya USD 1.5. Untuk pemilihan asuransi ini disesuaikan dengan persyaratan nilai pertangggungan dari untuk visa Schengen. Proses untuk mendapatkan polisnya juga cepat, setelah kita melampirkan via email persyaratan ke cekpremi.com dan membayar jumlah preminya, nggak berapa lama polis akan dikirimkan via email. Syarat untuk pengajuan asuransi ini berupa Photocopy KTP, photocopy paspor, photo ahli waris serta data lengkap ahli waris (nama lengkap, hubungan kekerabatan, alamat lengkap dan nomor kontak).

Proses penyerahan dokumen nggak selama antrinya ternyata, setelah diperiksa kelengkapannya, kemudian kita dikasih secarik kertas yang isinya pembayaran untuk pengajuan visa. Biaya untuk visa turis sebesar IDR 919.000, ditambah biaya logistik IDR 300.000, dan kalau ingin pemberitahuan pengambilan paspor lewat sms akan dikenai biaya lagi IDR 20.000. Kalau nggak mau juga nggak apa-apa, karena nanti pemberitahuan akan disampaikan lewat email.

Setelah melewati petugas bagian penerimaan dokumen dan pembayaran, kita harus antri lagi untuk sidik jari. Ya nggak lama sih antrinya, tergantung orang-orang sebelum kita bermasalah atau nggak aja. Karena di bagian ini kita nggak hanya cek sidik jari tetapi juga ditanya-tanya seputar perjalanan ke sana. Ngapain ke sana, berapa lama di negara ini dan itu, masuk lewat mana, nginap dimana dll. Setelah itu selesai deh prosesnya. Bentar yah dan nggak ribet. Iya kalau dokumennya lengkap sih bentar dan nggak ribet :D

Sehari setelah penyerahan dokumen, maka akan ada email dari VFSGlobal yang memberikan informasi bahwa dokumen kita sudah diserahkan ke kedutaan. Berdasarkan informasi petugas VFSGlobal, pengurusan visa ini akan memakan waktu sekitar 3 sd 5 hari kerja. Aku menyerahkan dokumen tanggal 17 Maret, tanggal 18 Maret dapat email kalau dokumen sudah di kedutaan, tanggal 23 Maret dapat email konfirmasi kalau hasil dari kedutaan sudah keluar, dan paspor sudah dapat diambil. Tetapi ini bukan pemberitahuan visanya disetujui atau nggaknya ya. Persetujuan visa mutlak hak kedutaan. Pihak VFSGlobal juga nggak tahu hasilnya, karena mereka menerima berupa amplop tertutup dari kedutaan. Jadi sewaktu ngambilnya serasa mau lihat hasil ujian ahahaha, deg-degan juga. Ngeri diphp ehhh ditolak :D

Dan hasilnya adalahhhh visanya disetujui. Alhamdulillah. Yihaaaaa! Semoga perjalanan berjalan dengan lancar, aman dan damai. Aaminn…


Dee











Eropa? Coba ulangin, Eropa? Yakinnn kamu, Dee? Eropa lho ini. Mahal lho. Pikir -pikir lagi deh.

Asli ya itu kalimat di atas ngeremehin banget ahahaha. Tapi kalau dipikir-pikir lagi emang ada benernya juga sih. Alasan utama banget Eropa itu super duper mahal. Lagi pula sepertinya Eropa juga belum ada di list impianku. Ehhh tapii sepertinya ada deh. Aha! Beneran terselip kata-kata Eropa.

34.  Pengen nyobain musim dingin di salah satu negara Eropa atau Asia (Jepang atau Korea). Target akhir 2014 atau 2015

Benar sekiranya kata-kata Arai dalam buku Sang Pemimpi-nya Andrea Hirata “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”. Tentunya kita nggak hanya sekedar bermimpi, namun harus tetap berdoa dan berusaha. Mimpi doang nggak ada usaha mah namanya ngaranggg, ngayalll.

Oke, balik ke list impian itu, ternyata ada terselip Eropa-nya, walaupun keinginan sebenarnya adalah untuk melihat salju. Seperti kebanyakan orang-orang negara tropis, melihat salju adalah sebuah impian. Bagiku melihatnya di Korea atau Jepang sudah cukup, karena Eropa bagiku adalah “jalan-jalan” mahal. Ke sana tiketnya mahal, paling tidak di atas 10 juta. Belum lagi biaya hidup di sana. Keinginan ke Eropa untuk sementara disimpan di lubuk hati yang paling dalam, berharap ada keajaiban ^^ *tsahhh*.

Ternyata keajaiban itu ada! Dikirimkan Tuhan lewat komunitas FB Bacpakcer Dunia. Meskipun bukan anggota aktif, hanya silence reader, sesekali komen *jarang pake banget juga komennya*. Pada suatu hari, entahlah itu hari apa ahahaha, aku melihat postingan “menggoda” di sana. Ada yang “pamer” dapat tiket ke Eropa pp di bawah 5 juta rupiah saja. Dihhh ini seriusan atau nih orang lagi ngayal ya? Setelah aku cek komen-komen ternyata itu bukan khayalan semata. Saat itu hanya berkomentar dalam hati “keren”, belum berniat juga buat cek tiket. Inilah salah satu manfaat bergabung di komunitas ini, bisa tahu promo-promo tiket. Mudharatnya, bisa mupeng abis liat postingan perjalanan orang-orang ahahaha.

Dan Tuhan juga tidak menghentikan “godaan” itu. Aku melihat postingan itu di pagi hari, sore harinya teman kantor menawarkan promo tiket ke Maroko. Ya Tuhan, kehidupan macam apa ini? Ahahahaha. Atas tawaran ini spontan aku menjawab, “Tuh ada promo ke Eropa di bawah 5 juta. Kalau lo nemu, gw ikutan deh”. Saat itu sih sebenarnya jawabnya ngasal, karena mikirnya promo tiket itu kan nggak banyak. Kemungkinan dapat juga kecil. Tetapi apa yang terjadi?

“Ada nih mbak, 4,7 jutaan”.

‘Seriusan? Pergi doang kali itu”.

“Kagak, dari Kuala Lumpur ke Amsterdam, pulangnya Roma ke Jakarta”.

Matek ahahahaha. Dan aku pun segera cek di Skyscanner, dan taraaa! Benar adanya tiker seharga segitu. Ini godaan terberat abad ini. Semua godaan ini berakhir dengan dibelinya tiket ini pada tanggal 2 November 2015 sekitar pukul 08.15 malam, untuk keberangkatan tanggal 21 April sampai 06 May 2016 seharga GBP 217.80 dengan kurs BII IDR 21.758, dan ada biaya GBP 15.80 untuk dua orang. Rute penerbangannya Kuala Lumpur – Doha (transit) – Amsterdam, Roma (Fiumicino) – Doha (transit) – Jakarta. Promo ini dipersembahkan oleh QATAR AIRWAYS! Cinta deh ahahaha. Sering-sering aja promonya.

Benar lagi kata orang-orang tua, jangan suka asal ngomong ntar kejadian. Kejadian begini mah sepatutnya disyukuri ahahaha. Disumpahi jalan-jalan mulu juga nggak masalah, asal ada yang sponsori ahahaha. Ada yang berminat? Tetapi kenapa ya asal ngomong masalah jodoh kok belum kejadian mulu yak? #ehhhh buahahaha.

Kembali ke tiket, pemilihan tanggal dikarenakan beberapa hal. Pertama karena musim semi, Tulip sedang bermekaran di Belanda. Kedua, aku entah kenapa paling nyari musim kalau keluar negeri itu kalau nggak musim semi ya musim gugur (untuk negara 4 musim). Kalau musim dingin setelah dipikir-pikir kalau ke Eropa sayang, nggak bisa terlalu menikmati perjalanan karena cuaca yang dingin. Impian untuk melihat salju sepertinya cukup di negara Asia. Sementara itu untuk musim panas selain dipastikan akan mahal karena mereka lagi liburan, aku sendiri rada anti musim panas ke negara orang, negara sendiri udah panas cyinnn ahahaha.

Tiket Kuala Lumpur ke Jakarta baru kita booking tanggal 20 Januari 2016, seharga IDR 539.000 dengan Air Asia. Cerita tiket ini cukup tragis. Karena setelah kita selesai booking, esok harinya Air Asia ada promo buy one get one untuk penerbangan ke luar negri. Ini artinya keberuntungan itu nggak selalu ada kawan ahahaha. Lupakan promo yang dilewatkan, hadapi masa depan *apa deh*.

Saatnya urusan itinerary. Untuk urusan yang satu ini melewati beberapa fase perombakan, sampai akhirnya terciptalah itinerary yang spektakuler ^^. Adapun itinerarynya adalah: Belanda – Paris – Interlaken (Switzerland) – Innsbruck (Austria) – Praha – Italia (Venice, Cinque Terre, Pisa, Roma). Detail dari itinerary akan aku bikin dipostingan tersendiri nantinya.

Untuk penginapan, aku memilih menggunakan booking.com, hanya satu penginapan di Cinque Terre yang dibooking via Hostelworld. Kenapa booking.com? Karena nggak musti bayar DP dan biaya pembatalannya GRATIS. Sementara di Belanda kita nginap di rumah Mas Marco, Tanti’s husband. Nah kalau Tanti siapa? Teman. Kenal Tanti dari Iwid, teman SMPku. Mau nanya apa lagi? :p

Sarana transportasi untuk perpindahan antar negara atau kota kita menggunakan bus dan kereta. Dan dalam rangka pengiritan, untuk bus kita memilih untuk mengambil bus malam. Transportasi antar kota dan dalam kota kita beli online hanya yang di Italia. Untuk negara lain kita beli nanti di sana.

Detail tentang penginapan dan transportasi nantinya ada dalam postingan itinerary ya. Begitu juga untuk pengurusan visa. Kali ini aku akan bikin postingan khusus visa juga, karena untuk ke Eropa, visanya urus sendiri alias nggak pake jasa travel. Mari berdoa semoga yang nulis nggak pake malas ya. Berdoa, dimulai… ^^





Dee